Tuah H. Dimurthala untuk Persiraja

Magrib belum benar-benar usai, tapi saya sudah melaju di jalanan Banda Aceh yang masih lengang menuju ke arah Lampineung malam itu.

“Kalau datang telat nanti gak dapat tempat bagus,” begitu pesan Rudi, teman yang saya ajak menonton pertandingan sepakbola antara kesebelasan Persiraja Banda Aceh menjamu Persita Tangerang di Stadion H. Dimurthala pada Rabu malam, 19 September 2018.

Setiba di muka stadion, saya melihat lampu dengan cahaya raksasa menyala di setiap sudut. Halaman depannya tampak beberapa kendaraan teparkir rapi.  Baca lebih lanjut

Iklan

Mengenang Orang-Orang Aceh

Tulisan ini milik Rusdi Amrullah Mathari. Saya unggah kembali di blog pribadi dalam rangka memperingati World Press Freedom Day 2018. Dan juga dalam rangka mengenang bang Rusdi. Dia adalah jurnalis tangguh. Penghormatan yang setinggi-tingginya saya berikan pada “guru menulis via virtual” saya itu. Alfatihah. 

 

oleh: Rusdi Amrullah Mathari

Mobil pick-up dua gardan yang saya tumpangi melonjak-lonjak menapaki jalan darurat yang hanya berupa timbunan pasir dan kerikil. Berkali-kali mobil itu harus dikendalikan dengan terampil untuk menghindari kubangan lumpur, jembatan darurat, atau genangan air laut yang menggerus daratan.

Di kiri kanan jalan, beberapa dari genangan air laut itu terlihat membentuk telaga seolah terjebak oleh daratan dan tak bisa kembali ke samudra. Di kejauhan di atas bukit tampak satu tenda putih bertuliskan U.N yang sudah kusam, sebagian terlihat sudah sobek. Dari Banda Aceh, perjalanan saya awali pada sebuah pagi di bulan Agustus tiga tahun lalu. Tujuannya menyusuri garis pantai barat Aceh sebuah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami 26 Desember 2004.  Baca lebih lanjut

Kerikil Pertama Penghalang Pergub Cambuk di Lapas

Sebuah mobil jenis bus memasuki pekarangan mesjid. Bus itu sempat terhalang kabel lampu yang merentang rendah, sebelum dua orang pria berseragam hijau tua berlari segera membetulkan. Mereka mengangkat kabel tinggi-tinggi menggunakan kayu. Mobil akhirnya lepas dan langsung melaju ke arah samping mesjid.

Pintu belakang mobil dibuka. Penumpang di dalamnya turun satu per satu. Awalnya turun lima perempuan dengan kepala menunduk dan menutup wajah menggunakan ujung jilbab yang dipakai. Derap langkah mereka tergesah-gesah menuju ke dalam mesjid sambil dituntun empat perempuan berseragam hijau tua. Lalu penumpang bus lainnya, tiga orang laki-laki juga turun dengan menundukkan wajah, seakan-akan tak ingin manusia dimuka bumi ini bisa melihat wajah mereka.

Kedatangan mobil bus yang kiri-kanan jendelanya terpasang jeruji besi itu mengalihkan pandangan ratusan orang yang sejak pukul sembilan pagi berdatangan ke halaman mesjid. Beberapa orang bahkan mendekat ingin mengabadikan penumpang bus menggunakan kamera ponsel. Tapi petugas cepat menghalau.

Itu mobil tahanan kejaksaan negeri Banda Aceh. Pagi itu mobil tersebut mengangkut delapan terdakwa pelanggar hukum syariat. Sebentar lagi, mereka yang tadi keluar dari dalam bus akan menjalani hukuman cambuk di hadapan umum. Baca lebih lanjut

Merayakan Pangguni Uthiram Hindu di Negeri Syariat Islam

Langit kota Banda Aceh pagi itu tampak murung. Matahari seakan enggan menampakkan diri. Namun pagi itu cukup hangat untuk membuat tubuh berkeringat. Ratusan orang tampak mengerumuni bantaran krueng (sungai) Aceh yang jaraknya hanya sepelemparan batu dengan pasar Peunayong, salah satu pasar terbesar di Kota Banda Aceh. Beberapa meter dari pasar, terdapat sebuah mesjid dengan kubah warna hijau berdiri megah.

Rangkaian ritual Pangguni Uthiram menyucikan diri di bantaran krueng (sungai) Aceh sebelum sembahyang di kuil. (foto: Alfath Asmunda)

Di tepi sungai tersebut, persis di bawah jembatan Peunayong, pagi itu tabuhan gendang mengehentak tampa jeda mengiringi suara seorang remaja yang tengah melantunkan nyanyian sesembahan di ritual Pangguni Uthiram umat Hindu etnis Tamil di Banda Aceh, Minggu (8/4/2018).

Bagi umat Hindu itu adalah hari kemenangan Dewa Muruga. Mereka harus merayakannya. Di ritual tersebut umat Hindu juga banyak yang melepaskan nazar. Nazar yang dilepas diperuntukkan bagi keluarga dan kerabat yang sedang sakit atau yang tertimpa musibah agar segera bangkit menata hidup lebih baik lagi. Baca lebih lanjut

Semua dibawa Oleh Gelombang

Malam itu wajahnya seperti tentara yang baru pulang dari medan perang. Goresan lelah tak bisa ia sembunyikan. Sebuah Senter Kepala masih menyela di kepalanya. Jarum pendek di layar HP saya menunjukkan angka 11. Keringat ditubuh saya bercucuran ketika tiba ditempatnya mencari nafkah, setelah 2 kilometer mendorong sepedamotor yang bocor. “Pakon, bocor ban nyeuh? (kenapa, bocor ban ya?)”

Dia menyambut saya yang masih mengatur nafas karena kelelahan.

Nyeuh pak. (iya pak)”

Oma.. naksue lon thop nyoe. Kiban nyan? Ka jula tat sebab. (Aduh, saya mau tutup ini. Bagaimana tuh? Sudah tengah malam soalnya”

Neubantu lon siat pak. Lon woe jioh nyoe pak. (Bantu saya dong pak. Saya pulang jauh ini pak,” kata saya sedikit memelas. Berharap dia luluh.

Saya malam itu baru keluar dari warungkopi di kawasan Lampineung. Di parkiran, mata saya terbelalak mendapati ban depan sepedamotor yang kempes. Sial. Malam-malam begini setelah lelah beraktifitas seharian saya harus mendorong pula sepedamotor sendirian.  Baca lebih lanjut

Bioskop “di Dunia Kita yang Pertama”

Kursi tampak disusun rapi. Sebelah kiri diduduki perempuan. Sementara sebelah kanan,
dipenuhi oleh laki-laki. Panitia memang memisahkan penonton karena tak ingin ambil risiko. Sebab acara digelar di Aceh. Provinsi ini punya aturan sendiri tentang perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim.

Penonton mematuhi. Tak ada yang protes. Panitia tak mengalami kewalahan ketika mengatur. Mungkin semua sudah mahfum.

Malam itu, Minggu 9 Desember 2017 saya hadir Baca lebih lanjut

“Drakula” Berhati Mulia dan Penyandang Thalassemia Aceh

Dia mengenakan baju kemeja putih lengan panjang. Sebuah dasi warna hitam menjuntai sampai sepusar. Pagi itu, matahari begitu cerah menyelimuti kota Banda Aceh. Di bundaran Simpang Lima, tampak puluhan orang telah mensesaki jantung kota yang sering digunakan sebagai mimbar orasi bebas itu.

Secarik kertas terselip ditangannya. Saat itu, ia hendak tampil membaca puisi untuk mewakili curahan hati teman-teman yang senasib dengannya. Kertas tersebut berisi susunan kata-kata yang ia rangkai sendiri, dan membuat mata saya berkaca-kaca ketika mendengar ia membacanya.

Dibukanya lipatan kertas. Ia mendekatkan mikrofon tepat di bawah bibirnya. Baca lebih lanjut

Kubra dan Secangkir Kemewahan

Depan halamannya terparkir rapi puluhan kendaraan roda dua dan roda empat. Jalanan Beurawe yang biasanya padat, siang itu terlihat sedikit lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Mobil-mobil pick-up penawar jasa angkut barang yang biasa mangkal di pinggir jalan tersebut juga tidak tampak beroperasi. Tapi kelengangan tidak berlaku pada sebuah kedai kopi empat pintu yang terdapat di sana. Kedai kopi itu tetap ramai seperti hari-hari biasanya.

Ini akhir pekan. Warga Banda Aceh dan sekitarnya mungkin sedang beristirahat di rumah masing-masing. Atau menjatuhkan pilihan mengisi waktu luang pergi tamasya ke pantai. Di pinggiran Banda Aceh, memang terdapat banyak pantai yang asik untuk melepas penat.

“Sini parkir bang. Di sini. Lebih teduh,” seru seorang tukang parkir sambil menuntun saya memarkirkan motor tepat di bawah pohon berdaun rimbun, di halaman depan kedai kopi empat pintu itu.

Matahari di Banda Aceh cukup terik. Panas, menusuk ke dalam kulit. Saya dan tiga orang teman pada akhir pekan itu, bersepakat ngopi di sebuah kedai kopi yang telah berdiri sejak tahun 1945. Benar, jika dilihat dari tahun kelahirannya, kedai kopi ini seumuran dengan proklamasi negara Indonesia. Sekalipun belum ada data pasti semisal kajian yang berbasis penelitian tentang kedai-kedai kopi tertua di Banda Aceh, namun banyak orang yang berpendapat bahwa kedai kopi yang hendak kami tuju ini adalah yang tertua di Banda Aceh dan masih eksis hingga sekarang.

Kedai kopi Cut Zein. Begitu nama aslinya. Belakangan, sejak para penikmat kopi Cut Zein membentuk wadah perkumpulan yang diberi nama forum silaturahmi penikmat kopi Beurawe (Forsilakubra) pada tahun 2011, banyak kalangan mulai menyebut kedai kopi Cut Zein dengan sebutan Kubra saja. Baca lebih lanjut

Paranoid

Akhir-akhir ini, ketika berada di kampus, aku merasa ada keanehan yang bersarang dalam diri ini. Tanpa ada sebab seringkali aku tiba-tiba saja merasa takut. Merasa ada sesuatu yang terus mengejar-ngejar, mengawasiku dengan tajam. Seakan sesuatu yang membuat aku takut itu sedang melancarkan teror, secara sistematis, tanpa aku tahu apa kesalahanku.

Celakanya, wujud itu tidak terlihat. Dan perasaan takut tersebut pun muncul sering tak terduga-duga. Seperti tadi misalnya, saat aku berada di kampus dengan tujuan mengurus surat menyurat untuk mengakhiri masa menjadi mahasiswa, aku terlihat tergesa-gesa.  Baca lebih lanjut

Sebongkah Harapan untuk Kembali Meneladani Rasulullah

membaca Alquran

sumber foto: internet

Ilmu pengetahuan berkembang dengan begitu pesatnya di muka bumi ini. Hasil dari itu semua melahirkan berbagai macam teknologi. Salah satu rahim dari lahirnya teknologi ini adalah dunia Barat, belahan dunia yang terpaut sangat jauh dengan seonggok daerah yang bernama Aceh. Dunia Barat dan daerah Aceh, bagai dua sisi mata uang yang berbeda. Budaya dan keyakinan spiritual mayoritas penduduknya, sangatlah berbeda jauh.

Dunia Barat, lewat negara-negara yang berada di benua Eropa itu menghasilkan teknologi yang berdampak atas berubahnya wajah dunia, tak terkecuali wajah daerah Aceh. Teknologi tersebut ada yang membawa manfaat baik bagi kemaslahatan umat manusia, namun tak luput pula mendatangkan masalah baru. Teknologi tersebut menghampiri seluruh belahan dunia, tak luput pula juga menyinggahi Aceh.

Baca lebih lanjut