“Drakula” Berhati Mulia dan Penyandang Thalassemia Aceh

Dia mengenakan baju kemeja putih lengan panjang. Sebuah dasi warna hitam menjuntai sampai sepusar. Pagi itu, matahari begitu cerah menyelimuti kota Banda Aceh. Di bundaran Simpang Lima, tampak puluhan orang telah mensesaki jantung kota yang sering digunakan sebagai mimbar orasi bebas itu.

Secarik kertas terselip ditangannya. Saat itu, ia hendak tampil membaca puisi untuk mewakili curahan hati teman-teman yang senasib dengannya. Kertas tersebut berisi susunan kata-kata yang ia rangkai sendiri, dan membuat mata saya berkaca-kaca ketika mendengar ia membacanya.

Dibukanya lipatan kertas. Ia mendekatkan mikrofon tepat di bawah bibirnya. Baca lebih lanjut

Kubra dan Secangkir Kemewahan

Depan halamannya terparkir rapi puluhan kendaraan roda dua dan roda empat. Jalanan Beurawe yang biasanya padat, siang itu terlihat sedikit lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Mobil-mobil pick-up penawar jasa angkut barang yang biasa mangkal di pinggir jalan tersebut juga tidak tampak beroperasi. Tapi kelengangan tidak berlaku pada sebuah kedai kopi empat pintu yang terdapat di sana. Kedai kopi itu tetap ramai seperti hari-hari biasanya.

Ini akhir pekan. Warga Banda Aceh dan sekitarnya mungkin sedang beristirahat di rumah masing-masing. Atau menjatuhkan pilihan mengisi waktu luang pergi tamasya ke pantai. Di pinggiran Banda Aceh, memang terdapat banyak pantai yang asik untuk melepas penat.

“Sini parkir bang. Di sini. Lebih teduh,” seru seorang tukang parkir sambil menuntun saya memarkirkan motor tepat di bawah pohon berdaun rimbun, di halaman depan kedai kopi empat pintu itu.

Matahari di Banda Aceh cukup terik. Panas, menusuk ke dalam kulit. Saya dan tiga orang teman pada akhir pekan itu, bersepakat ngopi di sebuah kedai kopi yang telah berdiri sejak tahun 1945. Benar, jika dilihat dari tahun kelahirannya, kedai kopi ini seumuran dengan proklamasi negara Indonesia. Sekalipun belum ada data pasti semisal kajian yang berbasis penelitian tentang kedai-kedai kopi tertua di Banda Aceh, namun banyak orang yang berpendapat bahwa kedai kopi yang hendak kami tuju ini adalah yang tertua di Banda Aceh dan masih eksis hingga sekarang.

Kedai kopi Cut Zein. Begitu nama aslinya. Belakangan, sejak para penikmat kopi Cut Zein membentuk wadah perkumpulan yang diberi nama forum silaturahmi penikmat kopi Beurawe (Forsilakubra) pada tahun 2011, banyak kalangan mulai menyebut kedai kopi Cut Zein dengan sebutan Kubra saja. Baca lebih lanjut

Paranoid

Akhir-akhir ini, ketika berada di kampus, aku merasa ada keanehan yang bersarang dalam diri ini. Tanpa ada sebab seringkali aku tiba-tiba saja merasa takut. Merasa ada sesuatu yang terus mengejar-ngejar, mengawasiku dengan tajam. Seakan sesuatu yang membuat aku takut itu sedang melancarkan teror, secara sistematis, tanpa aku tahu apa kesalahanku.

Celakanya, wujud itu tidak terlihat. Dan perasaan takut tersebut pun muncul sering tak terduga-duga. Seperti tadi misalnya, saat aku berada di kampus dengan tujuan mengurus surat menyurat untuk mengakhiri masa menjadi mahasiswa, aku terlihat tergesa-gesa.  Baca lebih lanjut

Sebongkah Harapan untuk Kembali Meneladani Rasulullah

membaca Alquran

sumber foto: internet

Ilmu pengetahuan berkembang dengan begitu pesatnya di muka bumi ini. Hasil dari itu semua melahirkan berbagai macam teknologi. Salah satu rahim dari lahirnya teknologi ini adalah dunia Barat, belahan dunia yang terpaut sangat jauh dengan seonggok daerah yang bernama Aceh. Dunia Barat dan daerah Aceh, bagai dua sisi mata uang yang berbeda. Budaya dan keyakinan spiritual mayoritas penduduknya, sangatlah berbeda jauh.

Dunia Barat, lewat negara-negara yang berada di benua Eropa itu menghasilkan teknologi yang berdampak atas berubahnya wajah dunia, tak terkecuali wajah daerah Aceh. Teknologi tersebut ada yang membawa manfaat baik bagi kemaslahatan umat manusia, namun tak luput pula mendatangkan masalah baru. Teknologi tersebut menghampiri seluruh belahan dunia, tak luput pula juga menyinggahi Aceh.

Baca lebih lanjut

Pengusaha Giok

batu giok

Sumber Foto: internet

Ia sedang duduk sambil membolak-balikkan koran. Mulutnya terlihat komat kamit tengah membaca koran Sapu Jagat. Duduk sendirian dalam keramaian kedai kopi “Bahagia Bersama” milik Teungku Karim, ia terus saja fokus membaca sambil mulutnya tampak bergerak namun tak mengeluarkan sedikitpun suara.

Sebuah topi koboi berwarna coklat yang ia pakai, tampak menutupi kepala serta rambut ikalnya yang tergerai panjang sampai sebahu. Puluhan orang  berpakaian PNS (Pegawai Negeri Sipil), tampak juga ada di sana menyeruput secangkir kopi sebelum masuk kantor.

Baca lebih lanjut

Sebingkai Jejak Di Bekas Gedung Serambi Indonesia

Rumput liar tumbuh subur di halaman depan gedung bercat putih itu. Bahkan, ada yang sudah merambat ke bagian gedung. Beberapa orang pekerja bangunan tampak sedang sibuk membongkar bagian atap dari gedung tersebut.

Sore itu, Sabtu (10/1/2015) saat matahari hendak membenamkan diri ke ufuk barat, saya menyambangi gedung yang sarat akan makna dan sejarahnya bagi surat kabar harian Serambi Indonesia.

Baca lebih lanjut

Maulid Di Lubok Sukon dan Potensi Wisata

Puluhan kendaraan roda empat dan roda dua berjejer terparkir di kiri kanan jalan Gampong (kampung). Lalu lalang kendaraan yang melintas pun, tak henti-hentinya silih berganti keluar masuk kampung. Seperti jalanan di Jakarta, lebar jalannya yang sempit, kampung ini seakan menjadi sebuah “miniatur kemacetan” bagi saya. Teryata, beginilah kondisi Ibukota kala macet.

Siang kemarin, Minggu (8/2/2015) saya diundang oleh seorang teman untuk berkunjung ke rumahnya. Undangan itu dalam rangka perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Di Aceh, perayaan maulid Nabi selalu digelar tiap tahunnya dengan mengundang sanak famili, tetangga, teman, rekan kerja, dan orang-orang terdekat lainnya. Sudah barang tentu dalam undangan tersebut, para tetamu yang diundang akan dihidangkan dengan berbagai macam makanan.

Baca lebih lanjut

Dari Musibah Hingga Hari Kepedulian

Pagi itu hujan belum juga reda. Rintik-rintiknya masih berjatuhan membasahi bumi. Sembari menunggu, saya telah menghabiskan sepiring nasi dan segelas teh hangat. Jarum jam terus saja berputar, namun tanda-tanda hujan akan reda belum tampak.

Namun di halaman depan masjid kebanggan orang Aceh, Masjid Raya Baiturrahman ratusan anak-anak muda yang sudah lengkap dengan atributnya masing-masing telah berkumpul. Informasi itu saya dapat dari grup WhatsApp komunitas yang saya geluti. Mereka telah bersiap-siap untuk ikut membuat sebuah sejarah baru bagi Aceh.

Sejak malam, Sabtu (20/12/2014) kota Banda Aceh memang terus menerus diguyur hujan, bahkan diseluruh penjuru Aceh hujan tanpa henti-hentinya berjatuhan. Tak ayal hal itu menyebabkan puluhan daerah di Aceh terserang banjir. Hingga pagi pun datang, hujan masih enggan untuk berhenti.  Baca lebih lanjut

Jangan Sekali-kali Melupakan Blogger!!!

Majunya sebuah daerah tidak terlepas dari peran penting masyarakatnya dalam menyebarluaskan hal positif dari daerah tersebut. Di era yang serba teknologi sekarang ini, masyarakat bisa dengan mudah menyebarkan kabar apapun tentang daerah yang ia tempati melalui berbagai macam media sosial semisal blog, twitter, facebook, dan media-media sosial lainnya.

Peran yang tidak tampak secara kasat mata dari masyarakat ini, sebenarnya sungguh amat sangat membantu kemajuan suatu daerah. Masyarakat yang sadar akan pentingnya untuk memberi informasi ke dunia luar, demi untuk membuat daerah yang di tempatinya semakin maju berkembang. Perihal yang demikian, harusnya mendapat apresiasi dari pemerintah daerah.

Contohnya saja blogger, orang-orang yang berkecimpung di dunia informasi ini, terus saja tanpa henti-hentinya mengabarkan hal-hal menarik dari daerah yang blogger itu sendiri tempati. Mengabarkan tentang kehidupan sosial kemasyarakatannya, budaya, sejarah, hingga mengabarkan tempat-tempat wisata yang masih tersembunyi dari mata dunia. Baca lebih lanjut